GADIS CANTIK ITU TERKENA PELET SAHABATKU

GADIS CANTIK ITU TERKENA PELET SAHABATKU




Dunia malam itu seolah berhenti berputar bagi Rian. Di bawah lampu neon sebuah kafe yang riuh, ia berdiri mematung. Di hadapannya, Maya—gadis yang kecantikannya sering dianggap sebagai standar tertinggi di kampus kami—baru saja meludahkan kalimat yang lebih tajam dari sembilu.

Bab 1: Penghinaan di Depan Publik

"Gue nggak salah dengar?" Maya tertawa, suaranya melengking tinggi, memancing perhatian meja-meja di sekitar. "Rian, lihat sepatu gue. Harganya mungkin setara sama biaya hidup lo tiga bulan. Terus lo minta gue jadi cewek lo?"

Rian mencoba bicara, "May, gue tulus..."

"Tulus nggak bisa beli skincare gue!" potong Maya kasar. "Mending lo sadar diri. Muka lo itu standar bawah, ekonomi sulit. Jangan mimpi ketinggian, nanti jatuhnya mati. Sana, cari cermin yang gede!"

Maya pergi begitu saja, meninggalkan Rian dalam keheningan yang memekakkan telinga. Sebagai sahabatnya, saya merangkul bahunya, tapi tubuh Rian kaku. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap lantai dengan tatapan yang sangat gelap.

Bab 2: Aroma Kemenyan di Kamar Kos

Dua minggu setelah kejadian itu, Rian menghilang dari pergaulan. Saat saya menyambangi kosnya, bau menyengat—perpaduan antara melati busuk dan aroma terbakar—menusuk hidung.

"Rian, lo di dalam?" tanya saya.

Pintu terbuka sedikit. Rian tampak kuyu, tapi ada seringai aneh di wajahnya. Di sudut kamar, saya melihat sebuah foto Maya yang sudah dicoret-coret dengan tinta merah dan diletakkan di bawah sebuah wadah kuningan.

"Dia bakal datang, sebentar lagi," gumam Rian. Suaranya terdengar serak, seolah sudah lama tidak minum.

"Yan, jangan gila. Lo main dukun?" sergah saya.

Rian hanya tertawa kecil. "Dia yang mulai, dia yang sombong. Gue cuma mau kasih dia 'pelajaran' soal cara menghargai orang."

Bab 3: Perubahan Sang Primadona

Perubahan pada Maya terjadi begitu cepat hingga membuat seisi kampus gempar. Gadis yang biasanya turun dari mobil mewah dengan riasan sempurna itu kini sering terlihat berjalan kaki dengan baju yang kusut.

Puncaknya adalah saat jam istirahat di kantin. Maya berlari menghampiri Rian yang sedang duduk tenang. Di depan semua orang, Maya berlutut di samping kursi Rian.

"Rian... kamu ke mana aja? Kenapa pesanku nggak dibalas?" isak Maya. Matanya merah, sembab, dan pandangannya kosong—seperti orang yang sedang mengigau.

Rian hanya menyesap kopinya dengan tenang, tanpa melihat ke arah Maya. "Bukannya aku nggak selevel sama kamu, May?"

"Aku salah! Aku mohon, jangan tinggalin aku. Aku nggak bisa tidur kalau nggak dengar suara kamu," rintih Maya sambil memegang ujung celana Rian. Ia benar-benar kehilangan martabatnya. Gadis yang dulu begitu angkuh kini tampak seperti budak yang memohon belas kasihan.

Bab 4: Harga yang Harus Dibayar

Melihat pemandangan itu, saya tidak merasa senang untuk sahabat saya. Justru, bulu kuduk saya merinding. Maya tidak jatuh cinta; dia sedang tersiksa. Setiap kali Rian menjauh, Maya akan berteriak histeris atau menyakiti dirinya sendiri.

Suatu malam, Rian mengaku kepada saya. "Gue menang, kan? Dia sekarang berlutut di kaki gue."

"Tapi ini bukan dia, Yan," balas saya ketakutan. "Ini cuma pengaruh 'barang' itu. Lo nggak takut kena batunya?"

Rian terdiam. Seiring berjalannya waktu, Rian pun tidak bahagia. Ia menjadi paranoid, takut jika pengaruh peletnya hilang, Maya akan kembali menghinanya. Sementara Maya, kecantikannya memudar drastis. Kulitnya pucat dan ia sering berbicara sendiri.

Kesimpulan dan Pesan Moral

Kisah ini berakhir dengan kegelapan bagi keduanya. Maya memang menjadi "milik" Rian, tapi ia hanyalah raga tanpa jiwa. Sedangkan Rian, ia selamanya akan dihantui rasa bersalah dan ketakutan akan hukum tabur tuai.

Pelajaran yang bisa kita ambil:

  1. Mulutmu Harimaumu: Kesombongan Maya saat menolak Rian menjadi pintu masuk bagi energi negatif. Menolaklah dengan sopan, karena kita tidak pernah tahu seberapa dalam luka hati seseorang bisa berubah menjadi dendam.

  2. Cinta Bukan Paksaan: Menggunakan cara mistis (pelet) untuk mendapatkan seseorang hanya akan menghasilkan hubungan yang beracun dan merusak jiwa kedua belah pihak. Kemenangan di atas penderitaan orang lain tidak akan pernah mendatangkan kedamaian.




Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © Dunia Astral. Designed by OddThemes