KU TUMBALKAN MUSUHKU UNTUK KEKAYAAN
Desa Kertajaya, sebuah nama yang kini hanya menjadi bisikan ketakutan di antara penduduk sekitar. Konon, di sanalah tersembunyi sebuah kisah kelam, tentang ambisi yang melampaui batas kemanusiaan, dan tumbal yang dibayarkan dengan nyawa.
Semuanya bermula dari seorang lelaki bernama Hardi. Ia dikenal sebagai sosok yang pendiam, namun menyimpan dendam membara terhadap Karta, saingan bisnisnya yang selalu berhasil menjatuhkannya. Hardi hidup dalam kemiskinan, sementara Karta bergelimang harta. Rasa iri dan benci meracuni hatinya, mendorongnya untuk mencari jalan pintas.
Suatu malam, Hardi bertemu dengan seorang dukun tua yang tinggal di pinggir hutan larangan. Dukun itu, dengan tatapan mata yang penuh rahasia, menawarkan sebuah perjanjian. "Kau ingin kekayaan?" bisiknya seraya tersenyum tipis. "Aku bisa memberikannya, tapi ada harga yang harus kau bayar."
Hardi, yang sudah dibutakan oleh ambisi, tanpa ragu menyanggupi. "Apapun itu, akan kubayar!" ucapnya mantap.
Dukun itu tertawa kecil. "Kau harus menumbalkan orang yang paling kau benci. Darahnya akan membuka gerbang kekayaan tak terbatas bagimu."
Mata Hardi berbinar. Sosok Karta langsung terlintas di benaknya. Ini adalah kesempatan emas untuk membalas dendam sekaligus meraih semua yang ia impikan.
Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan menyebar di Desa Kertajaya. Karta ditemukan tewas secara misterius di rumahnya, dengan kondisi yang mengenaskan. Tubuhnya pucat pasi, seolah seluruh darahnya telah terkuras habis. Polisi tidak menemukan jejak pembunuhan, dan kasus itu akhirnya ditutup sebagai kematian wajar akibat serangan jantung.
Namun, penduduk desa berbisik-bisik. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi setelah itu, secara tiba-tiba, Hardi mulai menunjukkan kekayaan yang luar biasa. Ia membeli tanah yang luas, membangun rumah megah, dan bisnisnya berkembang pesat.
Hardi menikmati kekayaannya, namun kebahagiaannya semu. Setiap malam, ia dihantui oleh bayangan Karta. Suara bisikan-bisikan mengerikan sering terdengar di telinganya, seolah arwah Karta tidak tenang. Ia mulai kehilangan nafsu makan, tubuhnya kurus kering, dan matanya selalu memancarkan ketakutan.
Hingga suatu pagi, Hardi ditemukan tewas di kamar tidurnya, dengan wajah yang menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa. Tidak ada luka fisik, tapi tubuhnya sama pucatnya dengan Karta. Penduduk desa percaya, arwah Karta telah datang menjemputnya, menuntut balas atas tumbal yang telah ia berikan.
Kisah Hardi menjadi peringatan bagi seluruh penduduk Desa Kertajaya, tentang bahaya ambisi yang tak terkendali dan konsekuensi dari perjanjian dengan kegelapan. Kekayaan yang didapatkan dari jalan sesat, tidak akan pernah membawa kebahagiaan sejati, melainkan hanya penderitaan abadi.

Posting Komentar